Istri Tega Bunuh Suami
Agustus 16, 2020

Istri Tega Bunuh Suami Karena Tak Diberi Rp 35 Ribu untuk Judi

By ariko

Riska Cartina Devi, 35, sangat sedih ketika mengetahui bahwa suaminya, Hendra Supenda, 34 tahun, telah mengutuknya. Hendra mengucapkan kata-kata kasar karena istrinya marah karena belum membayar. Kerusuhan yang diakibatkannya menyebabkan kematian.

Hendra meninggal di tangan istrinya sendiri. Peristiwa itu terjadi pada 16 Agustus 2020 di Jalan Banka VIII CRT 013/012, rumah kontrakannya di Kelurahan Pela Mampan No. 2G, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Pukul 06.00 W.I.B. Uang ini akan digunakan untuk judi online Hendra. Permintaan itu kemudian ditolak Riska.

Riska meminta suaminya untuk berhenti berjudi online. Bukannya mengikuti instruksi istrinya, Hendra malah marah. Pukul 08.30 WIB Hendra malah mengutuk Riska dengan kata-kata binatang.

Hendra tak mengaku memarahi gadis itu, balasnya dengan menampar Hendra. Hendra yang tak terima menanggapinya dengan tindakan serupa. Akhirnya perkelahian pun terjadi. Riska menikam Hendera sampai mati dengan senjata tajam.

Akibat kejadian tersebut, Polsek Mampang menetapkan Riska sebagai tersangka. Riska saat ini sedang menjalani persidangan di PN Jakarta Selatan. 

Riska didakwa berdasarkan Bagian 338 dan / atau Bagian 340 dan / atau Bagian 351 (3) KUHP yang berkaitan dengan gagasan pembunuhan yang terbentuk sebelumnya. Yang tertinggi dari tiga pasal dan hukumannya adalah hukuman mati.

“Surat dakwaan alternatif sudah diajukan,” kata Jaksa Agung Nyonya Nulhakim kepada JavaPos.com, Jumat (22/1).

Sejauh ini, Ferdie belum membeberkan alasan pencantuman Pasal 340 dalam dakwaan. Alasannya, pembunuhan itu terjadi secara spontan. Berdasarkan pemeriksaan polisi, Hendra diduga menjadi orang pertama yang mengancam dengan senjata tajam.

“Kalau begitu, ya. Biarlah itu menjadi strategi eksperimental. Kami akan membukanya di pengadilan.

baca juga:Bandar Judi Togel Online Menyerah Tanpa Syarat di Tangan Polisi

Ferdie mengatakan persidangan Riska sudah mencapai tahap luar biasa bagi tergugat. Sidang akan dilanjutkan pada Selasa 26 Januari 2021 dengan agenda tanggapan tergugat atas eksepsi penggugat.

Cedera dada korban

Sementara itu, Kapolsek Mampang Kompol Sujarwo beberapa waktu lalu mengatakan telah terjadi perselisihan antara Riska dan Hendra. Hendra menuding Risca mengancamnya dengan pisau.

Begitu istrinya menangkapnya, dia mendorongnya dan menusuk dadanya. Setelah mengalami cedera, korban terjatuh dan bangkit serta mengejar istrinya. Kata Sujarwo.

Namun, Suzuki tak menyimpulkan tindakan Riska itu untuk membela diri. Hasil pemeriksaan mengungkapkan bahwa Riska memiliki pisau sebelum menikam suaminya.

“Intinya itu menyebabkan korban meninggal. Intinya adalah kematian korban, paragraf 351 (3). Hal tersebut juga berdasarkan hasil pemeriksaan post mortem. Penyebab kematian sebenarnya adalah penyebab penusukan.

Usai menikam Hendra, Riska lari ke rumah orang tuanya untuk meminta bantuan. Sementara itu di rumahnya Hendra berlumuran darah dan keluarganya membantunya. Namun, nyawanya tidak luput saat dibawa ke rumah sakit.

Riska, sementara itu, mengaku saat itu suaminya ditikam. Dia menyesali perbuatannya. Selain itu, Riska mengaku kerap dilecehkan Hendra saat menikah.

“Itu hanya menjadi perhatian kami saat itu. Jadi suami dan istri menikah dan berbicara.

Pernikahan Riska dan Hendra kian informal setelah Riska kehilangan pekerjaan sebagai pramusaji akibat wabah Kovid-19. Sedangkan Hendra menganggur. Keluarga ini sering bertengkar karena tekanan ekonomi. Siapa sangka Hendra sudah mati?

Seniman bela diri

Beberapa waktu lalu, kuasa hukum terdakwa, Yuda Saragih, mengungkapkan Riska Cartina Devi telah dianiaya sebelum ditikam hingga meninggal dunia.

“Sebelum meninggal terjadi sesuatu pada korbannya, yaitu penyiksaan berat,” kata Jude beberapa waktu lalu.

Menurut dia, tersangka mengalami trauma berat usai bertengkar dengan suaminya. Sebagai pembalasan, korban menyalakan pisau yang sebenarnya digunakan untuk mengancam pelaku.

“Saat itu, tersangka dalam kondisi syok dari korban. Oleh karena itu, ada upaya untuk mewakili terdakwa.

Sumber: Jawapos.com